Lintang Selatan Blog

Entries categorized as ‘PRibadi’

Hari Lebaran Tiba

October 1, 2008 · Leave a Comment

Alhamdulillah puji syukur pada Allah Swt. Hari yang fitri ini telah tiba. Gema takbir di hari raya ini begitu menggetarkan. Pukulan beduk berirama, bertenaga dan membahana. Diselingi suara mercon meledak dimana-mana. Pertanda kemenangan bagi yang menjalankan puasa ramadhan dengan sukses.  Sebuah kebahagiaan yang sulit terungkap dengan kata. Semua turut berbahagia, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Yah walaupun sekali lagi mungkin hanya beberapa waktu saja. Ya tau sendiri khan, kebutuhan hidup begitu tinggi. Apalagi yang masih punya anak kecil. Tentu banyak yang harus dibeli.

Bukan rahasia lagi jika

Categories: PRibadi
Tagged:

Hari terakhir Ramadhan

September 29, 2008 · Leave a Comment

Sedikit renungan di akhir ramadhan. Sudah sejauh mana target ibadah dibulan suci ini?

  1. Sholat wajib, apakah sudah penuh? Dikerjakan sendiri atau berjama’ah?
  2. Puasa, apakah sudah sesuai kadar kualitasnya, masuk katagori mana? Biasa, Sedang atau Khos?
  3. Tilawah al Qur’an. Apakah sudah selesai mencapai target minimal sekali khatam?
  4. Amal Jariah. Apakah tiap hari berinfak?

Saudara sekalian, bagaimana dengan target anda? Berbagilah tips supaya tambah istiqomah….

Categories: PRibadi
Tagged:

Cara Mengatur Keuangan di Masa Sulit

August 31, 2008 · 1 Comment

Sementara para ekonom asyik berdebat mengenai Amerika yang tengah menuju resesi, kita sebagai konsumen juga merasakan dampaknya misal harga-harga yang kian melangit yang tak lagi tertandingi oleh kenaikan pendapatan. Kita tak bisa mengontrol harga karena itulah risiko dari mekanisme pasar yang dibiarkan bebas, namun ada hal yang bisa kita atur terkait dengan keuangan sebagai upaya perlindungan di masa datang saat arah perekonomian tak bisa kita baca.

Ada sejumlah ide sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi masa sulit yang kita tidak tahu kapan datangnya. Tip berikut juga memuat bagaimana cara kita mengatur keuangan saat masa sulit itu datang lebih awal. Nah, simak ya…

1. Kurangi hal tidak penting
Satu cara menghindarinya adalah dengan cara berbelanja menurut kebutuhan, bukan keinginan. Caranya bikin daftar belanja dan berusaha patuh pada daftar itu.

“Lakukan dengan penuh disiplin, jangan biarkan hati mengalahkan rasio saat belanja,” saran Nancy Register, associate director untuk Consumer Federation of America. Ric Edelman, Certified Financial Planner dan penulis “The Truth About Money” setuju dengan pendapat itu.

“Anda harus pastikan tidak berbelanja di luar daftar yang sudah ditetapkan. Atau Anda akan menyesal telah berlaku boros di saat harus berhemat.” Jika Anda punya anak yang menuntut dibelikan ini itu, Linda Sherry, director of national priorities for Consumer Action. Edelman menyarankan,”Ini saat yang tepat untuk menjelaskan kepada mereka mengenai artinya kebutuhan dan keinginan.”

2. Sisihkan dana darurat
Setiap keluarga punya kebutuhan keuangan yang berbeda, namun adakalanya mereka lupa menyisihkan dana cadangan yang akan sangat bermanfaat di masa sulit. Ada yang memang menabung, namun sekenanya saja, asalkan menyisihkan pendapatan. Padahal seharusnya tidak demikian.

“Anda perlu meningkatkan cadangan dana lebih banyak,” saran Edelman. Cobalah untuk membuka tabungan khusus yang memang hanya digunakan di saat darurat, deposito berjangka dan lain-lain yang likuid alias dapat cepat dicairkan saat dibutuhkan. Anda kesulitan menentukan besaran yang harus disisihkan?

“Alokasikan minimal 10% dari gaji yang Anda peroleh setiap bulan,” saran Gail Cunningham, juru bicara untuk National Foundation for Credit Counseling. Jika Anda tak bisa disiplin, minta bank mendebet langsung sebanyak 10% atau nilai yang disepakati begitu gaji masuk ke rekening.

3. Kurangi pos-pos biaya yang kurang perlu
Jika meniadakan acara makan di restoran bersama keluarga sama sekali tidak memungkinkan, maka kurangilah frekuensinya. “Akan lebih efektif untuk mengurangi ketimbang meniadakan sama sekali,” ujar Cunningham, “karena mengubah kebiasaan memang luar biasa sulit.”

Diskusikan hal ini dengan keluarga agar mereka memahami yang tengah terjadi. “Usahakan anggota keluarga mengarah pada tujuan yang sudah ditetapkan. Jadi tak terjadi pemborosan yang tidak perlu.”

4. Giat bekerja
Meski pekerjaan menjemukan, namun jika belum menemukan penggantinya, tetaplah bekerja. Pokoknya amankan posisi Anda di perusahaan sekarang. Jangan lupa memupuk jaringan yang akan banyak membantu Anda kelak. Yakinkan bahwa Anda memang layak dipertahankan, juga dipromosikan.

“Buatlah diri Anda sebagai orang yang layak diajak terlibat dalam sebuah tim yang hebat,” saran Martin Yate, pelatih eksekutif karyawan dan juga penulis buku laris “Knock ‘Em Dead 2008: The Ultimate Job Search Guide.”

Tiga kunci pokok yang dapat membuat Anda ‘dilihat’ adalah analisis kembali berapa besar Anda berkontribusi pada perusahaan, serta jangan takut untuk meningkatkan peran yang menyumbang pada kesuksesan perusahaan. Kedua, selalu update dengan perkembangan terbaru, melanjutkan sekolah misalnya. Ketiga, terlibatlah dalam setidaknya satu organisasi profesional yang terkait dengan profesi Anda. Tak hanya update dengan perkembangan, namun jejaring dari sini juga dapat Anda gunakan di masa sulit.

5. Bersiaplah untuk hal darurat
Anda harus realistis. Jika perusahaan sekarang dalam bahaya, siap-siaplah meng-update resume dan mulai berburu pekerjaan baru. Manfaatkan informasi dari jejaring Anda. Saat perusahaan kolaps, Anda tinggal ‘lompat’ ke tempat baru.

6. Jagalah utang tetap terkontrol
Hanya gunakan kartu kredit untuk kondisi darurat dan usahakan membayar penuh di akhir bulan. Jangan hanya membayar minimal 10% dari total tagihan karena hanya akan menyebabkan beban bunga berbunga. “Jika tidak ada ang, hentikan belanja untuk hal yang tidak perlu. Jangan bergantung pada kartu kredit,” saran unningham.

7. Siapkan dana pesiun
Jika perusahaan tidak memberikan dana pensiun, persiapkan dana pensiun sendiri. Entah melalui asuransi atau dana pensiun lembaga keuangan (DPLK). “Anda harus menyiapkannya. Jangan menunggu perusahaan memberikannya untuk Anda,” saran Edelman.

8. Periksa kembali asuransi Anda.
Anda tak mau terlalu banyak asuransi kan? Makanya cek lagi, apakah asuransi yang Anda miliki sudah cukup, kelebihan atau malah kurang. Sesuaikan saja dengan kebutuhan Anda. Kalau bisa, carilah asuransi yang memenuhi kebutuhan Anda namun dengan premi yang terjangkau.

sumber: hanyawanita.com

Categories: Keuangan · PRibadi

Kartu Kredit vs Penghasilan

August 31, 2008 · Leave a Comment

Berani taruhan, dalam dompet Anda pasti sedikitnya ada dua kartu, satu kartu ATM dan satu lagi kartu kredit. Bahkan bisa jadi koleksi kartu kredit Anda lebih dari satu. Alasannya, makin banyak kartu kredit makin kredibel. Atau keberadaan kartu-kartu kredit itu sekedar untuk berjaga-jaga jika Anda tak punya uang tunai.

Sadarkah Anda bahwa sebenarnya memiliki kartu kredit tidak selalu menguntungkan. Banyak orang terjerat utang karena kebablasan menggunakan kartu kredit. Umumnya ini terjadi pada mereka yang memiliki kartu kredit lebih dari satu.

Ini yang harus diingat, kartu kredit bukanlah uang lebih. Sayang, kita sering terbuai dan merasa kaya karena sejumlah kartu kredit dari bank ternama berjejer di dompet. Limit kartu kredit yang besar membuat kita merasa mempunyai uang tunai lebih.

Padahal limit yang diberikan itu tidak gratis. Begitu Anda menggesek kartu kredit, maka Anda punya kewajiban mengembalikan uang yang dipakai. Jika Anda tidak sanggup membayar lunas kartu kredit, maka utang yang tersisa akan dikenakan bunga. Beban bunga ini biasanya tidak kecil. Hati-hati, utang yang dibiarkan berlarut-larut ditambah bunga per bulannya bisa menjerat Anda.

Memang, kartu kredit sudah menjadi ikon bagi masyarakat kelas menengah di kota besar. Sayang, masih banyak yang belum mengerti cara pemakaian kartu kredit dengan bijak. Akibatnya, tak jarang penghasilan tiap bulan sebagian habis untuk membayar bunga kartu kredit.

Masyarakat kita punya kecenderungan menggunakan hampir 90% dari penghasilan per bulan untuk membiayai kebutuhan rumahtangga. Lantas, bagaimana jika cicilan utang kartu kredit menghabiskan 50% dari penghasilan? Ke mana Anda harus memenuhi kebutuhan rumahtangga? Bisa-bisa Anda harus mencari pinjaman sana-sini atau gali lubang tutup lubang.

Itu sebabnya, banyak pakar keuangan menyarankan agar Anda menjaga total cicilan utang per bulan jumlahnya tidak lebih dari 30% penghasilan. Dengan begitu, sisa sebesar 70% bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga.

Ada beberapa saran yang bisa Anda terapkan agar penghasilan tetap aman dari pemakaian kartu kredit yang berlebihan.

  1. Anda harus disiplin dalam pemakaian kartu kredit. Sebaiknya kartu kredit hanya digunakan jika memang sudah dianggarkan dalam keuangan keluarga. Artinya, Anda menggunakan kartu kredit sebagai pengganti uang tunai dengan kelebihan tenggat waktu.
  2. Anda juga bisa menggunakan kartu kredit untuk mengalihkan pengeluaran rutin seperti bayar telepon, listrik, ponsel, dan lain-lain. Tapi harus diingat bahwa cara ini hanya untuk memudahkan Anda dalam membayar tagihan lewat satu pintu.
  3. Jangan pernah mengambil uang tunai melalui ATM dengan kartu kredit. Bukan hanya karena bunga besar yang dibebankan, tapi juga beban biaya dan penerapan perhitungan bunga langsung. Terkecuali Anda dalam keadaan darurat dan membutuhkan uang tunai dalam waktu cepat.
  4. Saat membayar tagihan per bulan, sebaiknya jangan hanya membayar cicilan minimun. Beban bunga per bulannya bisa mencapai 3,5 persen. Dengan perhitungan bunga berbunga maka utang kartu kredit Anda rasanya seperti tak ada habisnya.
  5. Batasi kepemilikan kartu kredit, maksimal tiga buah. Lebih baik Anda membuat satu kartu kredit dengan plafon yang besar daripada memiliki banyak kartu dengan limit yang sebenarnya tidak besar. Selain tidak merepotkan, juga mengurangi resiko Anda memiliki utang di mana-mana.

sumber: Erma Dwi Kusumastuti – kompas.com

Categories: Keuangan · PRibadi

Tambah Ruwet

August 4, 2008 · Leave a Comment

Semakin mencari maka dikejar-kejar!

Semakin tidak berani maka semakin tak berarti!

Ehmmm huh begitulah!

Categories: PRibadi

Hari Yang Mengherankan

July 29, 2008 · Leave a Comment

Hemm begini ceritanya. Ada 2 kelompok mahasiswa membuat acara di kampung tempat sekolahku ngajar. Pertama anak2 Stikes Muh Gombong, terus anak KKN UGM masing2 mempunyai program

Categories: PRibadi

Jadi Golput Beneran

June 22, 2008 · Leave a Comment

Besok pagi pilgub jateng yang pertama kali dipilih secara langsung. Ada 5 pasang calon yang siap bersaing dalam perhelatan tanggal 22 Juni 2008 ini. Secara umum semua sama tidak menariknya. Membosankan! Seperti biasa penyebarluasan janji tanpa dukungan planing yang realistis

Categories: PRibadi

Membuka Lembaran Baru

June 1, 2008 · Leave a Comment

Wuih kayak orang yang baru menikah ajah si.. Pengennya si gitu tp ya uda belum terlaksana je :-(

Bulan Juni ini harus banyak yang kukerjain. Dari urusan pribadi sampe urusan bangsa dan negara (kerjaan maksudnya). Yang jelas mulai membuat rapot, diawali dengan membuat evaluasi semesteran. Dilanjutin ama membuat daftar nilai seluruh mapel. Ga semua kelas si tenang ajah, dibagi dua orang. Uda gitu langsung dech nulis rapot. NUlis, beneran nulis! Mana dari semester satu lagi. Bener-bener emang, masa dari dulu rapot belom dicetak. Pegel dech nulis tangan siap-siap balsem dan anti pegal.

Bulan Juni tahun lalu kutargetkan uda dapet gandengan, setahun lewat targetku bablas. Bosen gw ditanya knapa ga nikah-nikah. Alasannya masih klasik sih: “Belom Siap” atau “Kakak juga belom”. Tapi kali ini udah ga pada peduli. Sekarang yang bilang or tanya sudah ga cuma bilang aja. Mereka kebanyakan langsung nyodorin kandidat. Tapii ya itu kayaknya berat je.. Ada sesuatu yang kucari, tetapi beliom juga kutemukan. Kecocokan!

Categories: PRibadi · Pendidikan
Tagged: , ,

Apa Iya Sombong?

May 29, 2008 · Leave a Comment

Setelah aku punya kompi sendiri sekarang jarang nginep di kos. Biasanya dulu hampir tiap saat main di kantor mulu.

Categories: PRibadi